Merry Christmas and Happy New Year 2011

Tidak terasa sudah 1 tahun kami menjalani kepengurusan di PO Fasilkom ini.
Banyak suka duka yang kami alami, dan pertumbuhan pun kami rasakan.
Keakraban dan kekerabatan sesama pengurus dan jemaat PO Fasilkom juga semakin baik.

Semoga nantinya pengurus tahun depan akan lebih baik lagi dalam melayani Tuhan..

PO Fasilkom, selamat natal ya… (telat banget ya.. –” tapi natal itu kan setiap hari xD)
Selamat tahun baru juga.. Semoga tahun depan jadi lebih baik lagi.
GBU 🙂

Iklan

RPI Fasilkom 2010

Dalam rangka menyambut mahasiswa baru dan pengenalan akan Injil kepada mereka, seperti tahun sebelumnya, akan diadakan Retreat Pekabaran Injil (RPI) Fasilkom 2010.

Retreat ini akan diadakan pada hari Jumat- Minggu, 8-10 Oktober 2010 di Pondok Kepenrey. Tema yang akan diusung berjudul “Living as Childern of Light” dan memiliki ayat tema Efesus 4:24-25.

Kami mengundang para alumni dan anggota PO Fasilkom untuk turut hadir dalam acara ini. Jadi, kosongkan jadwal ya tanggal segitu.. xD

  • Iuran peserta:
      mahasiswa baru 100 ribu
      mahasiswa lama 150 ribu
      alumni 200 ribu
  • Jika berkenan untuk ikut atau ingin menyumbang, bisa mengirimkan ke salah satu rekening berikut : (harap melakukan pemberitahuan ke contact person)

      BNI Rawamangun
      0190120964
      a.n. Rina Akta

      BCA
      5270116711
      a.n Suviyanto

      Mandiri
      126-00-0513612-1
      a.n. Feraena Bibyna

    Contact Person:

      Bibay (085782765675)
      Rina (081384196262)
      Meli (081314210200)
      Christian (08998128012)

    Tunggu informasi selengkapnya di blog ini.. 🙂

    Sudah Siapkah Kita?

    Matius 25:1-13

    Matius pasal 25 menceritakan tiga perumpamaan tentang Kerajaan Sorga dan penghakiman di Akhir Zaman. Perumpamaan yang pertama intinya adalah berjaga-jaga agar saat Yesus datang kembali, umat Tuhan sudah siap. Kesiapan umat Tuhan itu diwakili oleh lima gadis yang bijaksana. Mereka mempersiapkan diri dengan matang, dengan membawa pelita serta minyak cadangan. Sedangkan gadis-gadis yang bodoh hanya persiapan seadanya, yaitu membawa pelita saja. Kedua kelompok gadis ini sedang menantikan mempelai pria (ay. 1). Pada saat mereka semua sedang menanti, memang tidak tampak perbedaan antara yang bijak dan yang bodoh. Baru pada saat mempelai pria menjelang tiba, saat yang tak seorang pun bisa mengetahuinya sebelumnya, terlihatlah siapa bijak, siapa bodoh.

    Saat mempelai pria tiba, tiba pula giliran gadis-gadis itu menyambut mempelai pria dan masuk ke ruang perjamuan kawin. Di situlah terlihat ketidaksiapan gadis-gadis yang bodoh. Tanpa minyak cadangan, mereka tidak bisa menyambut sang mempelai pria. Sementara mereka membeli minyak tersebut, mempelai pria sudah datang dan hanya kelima gadis bijak yang menyambut dia dan bersama-sama masuk ke perjamuan kawin tersebut.

    Mewakili siapakah lima gadis bodoh itu? Tentu orang-orang yang dalam hidup ini tidak memikirkan kekekalan, hanya sibuk dengan urusan duniawi. Saat Yesus datang kembali, mereka sama sekali tidak siap. Mereka tidak bisa menyambut Dia dan akan ditinggalkan. Merekalah yang menerima penghakiman terakhir.

    Apa pelajaran dari perumpamaan ini? Berjaga-jaga! Yesus dapat datang sewaktu-waktu. Bila saat itu tiba, tidak ada kesempatan kedua. Mereka yang tidak siap harus menanggung akibat kekal. Sejauh manakah Anda telah mempersiapkan diri di dalam menyambut hari penghakiman Tuhan? Apakah Anda telah memiliki fokus yang kuat dan persiapan yang cermat untuk hari kedatangan-Nya?

    baiklah mulai saat ini kita menyiapkan diri akan kedatanganNya yang kedua kali dengan:

    – rajin mencari Tuhan melalui saat teduh tiap-tiap hari (Mat 6:33)

    – menyukai dan merenungkan Firman Tuhan siang malam (Mz 1)

    – melakukan perintah Tuhan yang pertama dan yang terutama yi mengasihi Dia dg segenap hati, segenap jiwa dan kekuatan kita dan perintah yang kedua : mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.

    Ok, selamat belajar & sukses selalu!!

    Rgrds n blessings,

    k Fesfi

    Hidup dalam Persekutuan

    PJ 12 Maret 2010

    Pembicara: Kak Erlin

    Tema: Hidup dalam Persekutuan

    “Hidup dalam Persekutuan”

    Secara natur, manusia diciptakan secara berpasangan. Pasangan merupakan teman bersekutu yang paling intim. (Kej 2: 15 & 18). Persekutuan secara garis besar terdiri atas dua hal:

    1. Persekutuan dengan Tuhan
    2. Persekutuan dengan sesama manusia

    Persekutuan dengan Tuhan inilah yang menjadi inti hidup kita. Ketika memiliki persekutuan yang baik dengan Tuhan, persekutuan dengan manusia pun akan menjadi baik. Namun ketika persekutuan dengan Tuhan saja sudah tidak baik, maka hubungan dengan sesama manusia pun akan menjadi rusak / tidak baik.

    Roma 12:16, mengajarkan kita untuk menjadi sehati sepikir dalam persekutuan, sampai nantinya memiliki satu tujuan, yaitu memuliakan nama Tuhan. Konteks ayat ini secara lebih dalam ialah bukan sekadar hidup bersama tanpa tujuan. Dikatakan jangan menganggap diri pandai, berarti sebagai manusia, kita tidak boleh menganggap diri hebat, mampu, hingga tidak membutuhkan Tuhan, ini sama saja dengan kafir!

    Untuk memulai hidup bersekutu, dapat dimulai dari langkah-langkah kecil saja:

    1. Mengenal. Bukan hanya sekedar tahu nama, tahu wajah, tetapi memiliki pengetahuan, siapakah dia, disini perlu juga mengalami persekutuan pribadi dengan Tuhan.
    2. Tolong-menolong. Tindak yang lebih jauh dan lebih dalam lagi setelah kita mengenal sesama, yaitu memahami apa yang sedang diperlukan hingga wujud aplikasi kita ialah tolong-menolong dalam kasih.

    Dalam sebuah persekutuan, Allah mencurahkan berkat-Nya atas setiap kita. Apakah berkat Allah itu?

    1. Efesus 4:16. Ada pertumbuhan rohani dalam persekutuan. Melalui Firman Tuhan yang diperoleh lewat sesama inilah terjadi petumbuhan bagi tiap-tiap anggotanya.
    2. Roma 15:1. Saling menguatkan di dalam persekutuan. Yang kuat menanggung yang lemah dalam anugerah-Nya. Tidak ada yang dominan, tidak ada yang paling kuat, semua sebagai sesama bisa jatuh secara rohani, di sinilah peranan persekutuan, lewat KK, PJ, PD, saling menguatkan dan saling menolong.
    3. Roma 15:6. Satu hati, satu suara, memuliakan Allah dan Bapa, Tuhan kita Yesus Kristus.
    4. Kejadian 2:18. Adalah baik menurut Tuhan jika manusia yang diciptakan-Nya hidup berteman. Sebagai anggota tubuh Allah, pastinya kita membutuhkan orang lain. Maka itu janganlah menjadi Anak Setan, melainkan hidup bergaul yang benar di mata Tuhan.

    Sebagai aplikasinya, yang dapat kita lakukan ialah:

    1. Bagi orang-orang yang introvert, yang tidak menyukai persekutuan, marilah, mulailah berubah. Buatlah diri dan hidup kita semakin hari semakin bagus, semakin manis di hadapan Allah, Tuhan kita.
    2. Lebih tulus dan lebih mau lagi berinteraksi dengan sesama. Jangan gengsi untuk memulai percakapan terlebih dahulu. Untuk mengenal, perlu dimulai dari hal-hal kecil terlebih dahulu. Jangan malas untuk memulai pembicaraan.
    3. Lebih rajin lagi hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan PJ & KK. Prioritaskanlah segala hal yang berkaitan dengan Tuhan.

    – GOD BLESS YOU –

    Belajar dari Winnie the Pooh

    Ada sebuah ilustrasi sederhana namun menarik yang disampaikan oleh Sean Covey dalam bukunya 7 Kebiasaan Remaja yang Sangat Efektif. Saya rasa hal ini penting, bukan hanya bagi remaja namun juga semua orang. Diceritakan kisah klasik dari Winnie the Pooh.

    Piglet duduk di belakang Pooh.

    “Pooh”, bisiknya.

    “Ya, Piglet?”

    “Tidak apa-apa”, kata Piglet sambil memegang tangan Pooh. “Aku cuma ingin memastikan itu kamu”.

    Sebuah hubungan persahabatan penting bagi Piglet. Dia memastikan keberadaan Pooh untuk membuatnya merasa aman dan tentram.

    Seorang sahabat kadang hanya membutuhkan kehadiran Anda untuk membuatnya merasa aman, tentram, dan bahagia. Dengan duduk bersama, berbincang ringan, dan tertawa bersama hal itu sudah menjadi berkat yang sangat besar bagi seorang sahabat.

    Namum ditengah kesibukan hidup saat ini, seringkali banyak orang telah melupakan untuk meluangkan waktu bagi teman dan sahabatnya bahkan bagi keluarga. Di sudut-sudut ruangan hati sahabat Anda, dia berseru betapa rindunya ia akan waktu-waktu bersama seperti yang pernah Anda luangkan bersamanya dulu.

    Waktu adalah investasi yang tidak ternilai harganya. Seorang yang sukses menginvestasikan waktunya pada hal-hal terpenting bagi hidupnya. Apakah ada hal yang lebih penting dari sahabat, teman dan keluarga Anda?

    Sebuah kata-kata bijak berkata, “Tidak seorangpun pada akhir hidupnya berkata bahwa dia menyesali karena kurang menghabiskan waktu lebih banyak di kantornya, namun mereka karena kurang memberi waktu bagi orang-orang yang dikasihinya.”

    Jika Anda saat ini sedang sibuk, berhentilah sejenak. Sapa rekan Anda, atau sahabat Anda yang sudah lama sekali Anda tidak hubungi atau temui. Tanyakan kabarnya, dan sampaikan kata-kata penguatan padanya. Mungkin saja, dengan melakukan ini Anda telah menyelamatkan hidup seseorang.

    Ini bukan urusanku!

    Seekor Tikus mengintip melalui celah di dinding untuk melihat petani dan istrinya membuka sebuah bungkusan, kalau-kalau di dalamnya ada makanan. Dia sangat terkejut mendapati bahwa isi bungkusan itu ternyata adalah sebuah perangkap tikus. Sambil berlari ketakukan, Tikus itu berteriak-teriak, katanya, “Ada perangkap tikus di dalam rumah, ada perangkap tikus di dalam rumah!”

    Si ayam yang sedang sibuk mencari makanan di tanah, mengangkat kepalanya dan berkata, “Tuan Tikus, itu adalah kuburan yang tersedia untukmu, tidak ada pengaruhnya untukku.”

    Kemudian Tikus itu memberitahu juga kepada Babi bahwa ada perangkap tikus di dalam rumah. Babi menunjukkan sedikit simpatinya dengan berkata, “Aku turut bersedih Tuan Tikus tapi tidak ada yang dapat aku lakukan kecuali berdoa untukmu. Aku pastikan kamu akan ada dalam doa-doaku.”

    Lalu Tikus pun menghampiri Sapi dan mengatakan hal yang sama. Sapi tidak menanggapinya malah mengejeknya sambil berkata, “Perangkap tikus? Apakah aku sedang dalam bahaya? Apakah itu bisa membahayakanku?”

    Akhirnya Tikus dengan sedih dan putus asa kembali ke dalam rumah petani karena harus menghadapi perangkap tikus sang petani sendirian.

    Suatu malam terdengar suara dari dalam rumah seperti suara perangkap tikus yang menangkap sesuatu. Istri sang petani segera berlari untuk melihat apa yang tertangkap di dalamnya. Dalam kegelapan, dia tidak bisa melihat bahwa ternyata seekor ular berbisa telah terjepit pada perangkap itu dan langsung mengigitnya. Sang petani segera membawanya ke rumah sakit.

    Sepulang dari rumah sakit, istri petani itu masih demam dan setiap orang tahu bahwa sup ayam hangat bisa meringankan sakit demam. Jadi petani segera mengambil Ayamnya dari kandang dan menyembelih untuk membuat sup ayam.

    Namun sakit istri petani itu tidak kunjung membaik sehingga teman-teman dan tetangga-tetangganya datang untuk menjenguknya. Untuk menjamu mereka, petani itu memotong Babi miliknya.

    Akhirnya, istri petani itu pun meninggal dan banyak orang menghadiri pemakamannya. Petani itu menyembelih Sapinya untuk menyediakan daging bagi tamu-tamunya.

    Jika suatu saat Anda mendengar bahwa seseorang sedang menghadapi masalah dan Anda berpikir bahwa hal itu tidak ada hubungannya dengan Anda, ingat pada akhirnya kita pun terancam, kita semua menghadapi sebuah masalah. Jadi jangan pernah berkata, “Itu bukan urusanku.”

    Garam dan Terang

    Jadi pengen nulis ini sejak nonton suatu film seri yg di dalamnya ada quote seperti ini:

    A: “The world doesn’t work this way.

    B: “So, change the world!

    Biar nggak bingung, intinya karakter B ingin menolong karakter A (nama disamarkan :D), tapi karakter A dan B itu belum saling kenal. Nah, dari awalnya si karakter A nggak percaya bahwa B mau menolong dengan tulus. A mungkin menganggap B punya maksud yang kurang baik. Nah, di akhir episode itu, terbukti bahwa B benar-benar menolong A dengan bentuk pertolongan yang luar biasa, padahal A tidak melakukan apa-apa buat pantas mendapat pertolongan B (banyak A-B-A-B nih). Nah, di situ quote itu diucapkan. A kaget dan mengatakan bahwa dunia ini tidak bekerja seperti itu. A punya pandangan yang skeptis bahwa tidak ada lagi orang yang benar-benar tulus mau menolong orang lain di dunia yang semakin rusak. Tapi, B menjawab dengan suatu kalimat yang membuat saya merenung: “so, change the world!“.

    Percakapan ini membuat saya mengingat tulisan rasul Paulus dalam Roma 12:2 dan perkataan Tuhan Yesus yang diucapkan-Nya pada rangkaian khotbah di bukit, yang tertulis di Matius 5:13-16. Kita sebagai orang Kristen dikatakan oleh Tuhan Yesus sebagai “garam dunia” dan “terang dunia”. Di tengah-tengah dunia yang semakin membusuk, kita sebagai garam harus berfungsi menahan kebusukan itu. Di tengah-tengah dunia yang gelap, kita sebagai terang harus berfungsi menerangi kegelapan itu.

    Ini menjadi bahan perenungan buat kita semua, apakah selama ini kita sudah menjalankan fungsi kita sebagai garam dan terang dunia? Atau malah kita menjadi semakin serupa dengan dunia ini sehingga kebusukan itu terus menggerogoti dunia ini karena garamnya tidak berfungsi dan kegelapan terus mencengkram dunia ini karena terang itu tersembunyi!?

    Apakah kita akan bersikap seperti si karakter A yang diam saja melihat dunia semakin rusak, atau seperti karakter B yang menjawab dengan statement change the world! saat melihat dunia semakin rusak?

    Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Rom. 12:2)

    -Soli Deo Gloria-