Arsip Penulis

h1

The Cost of Being a Disciple (Lukas 14:25-35)

April 17, 2008

Perikop Lukas 14:25-35 mengatakan bagaimana menjadi seorang disciple (disciple : follower of a religious, political, etc leader [Oxford Learner’s Pocket Dictionary]).

Syarat menjadi pengikut.

Di perikop ini ada dua ayat yang menjelaskan tentang syarat menjadi seorang pengikut Kristus. Pertama (26), Ia mau kita supaya “membenci” dari bapa, ibu, isteri, anak-anaknya, saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, disini saya meng-quote kata membenci. Kenapa? Karena ayat ini mengambarkan kiasan dari makna membenci, kita tidak boleh mengartikan maknanya secara hurufiah dan dipandang dari sudut pandang manusia, masakan Tuhan yang menyuruh kita menghormati orang tua kita (Keluaran 20:12) menyuruh kita untuk membenci orang tua kita, masakan Tuhan yang menyuruh kita mengasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius 19:19) menyuh kita membenci bahkan diri kita, sekali-kali tidak. Adapun yang dimaksud disini adalah seperti di perikop Orang muda yang kaya (Matius 19:19) yaitu bahwa jika kita tidak mengutamakan Tuhan diatas orangtua, istri, anak, saudara bahkan diri kita sendiri(yang mana terkadang kita lebih mementingkan kepentingan pibadi diatas kepentingan orang lain), kita tidak layak menjadi pengikut Kristus. Kedua (27), Ia mau supaya kita memikul salib dan mengikut Dia. Kenapa? Apakah dengan mengutamakan Tuhan tidak cukup untuk menjadi pengikut Tuhan? Sebenarnya sudah cukup kok. Kalau begitu kenapa kita harus memikul salib dan mengikuti Dia? Karena kalau kita sudah benar-benar mengutamakan Tuhan dalam kehidupan kita maka (otomatis) kita akan melakukan kehendaknya dengan memikul salibNya. Kita tidak mungkin berkata bahwa kita sudah mengikuti Tuhan tetapi NATO(No Action Talk Only), kita pasti akan melakukannya. Nantinya kita akan diuji, dan ujian itu akan dinilai melalui tindakan kita dan melalui waktu, jika semua sudah selesai maka kita baru berhak mendapat predikat setia memikul salib(membutuhkan stabilitas dan usaha terus menerus). Kesetiaan tidak pernah datang dengan sendirinya(Binti..Sala..Binti, tiba-tiba disebut setia), sayangnya ini bagian yang amat susah untuk mengutamakan Kristus dalam segala aspek kehidupan(setia memikul salib) terlebih lagi jika harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

No Point of Return

Lalu perikop ini dilanjutkan dengan perumpamaan seorang yang ingin mendirikan menara lalu memperkirakan apakah ia sanggup atau tidak, saya mengambil commentary dari Wesley yang menjelaskan ini adalah bahwa kita ingin mengikuti Tuhan, kita harus mempertimbangkan terlebih dahulu dengan serius untuk itu, agar jangan ketika di tengah jalan, kita merasa bahwa tidak sanggup lalu berhenti dan kemudian ditertawakan dan dicemooh orang. Yang saya tangkap dari hal ini adalah, bahwa kita tahu secara sadar dan sudah dipikirkan sebelum kita mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan, jadi kita menjalankan pelayanan dengan kesadaran sehingga kita tidak berhenti di tengah jalan.

Perikop berikutnya adalah perumpamaan tentang seorang raja yang mau berperang dengan raja lain yang lebih besar kekuatannya, untuk ini saya kurang memahami terlalu dalam, namun maksud yang saya tangkap disini adalah bahwa kita melakukan penyerahan penuh kepada Tuhan(raja dengan kekuatan yang lebih besar) dengan mengirimkan utusan perdamaian yang menanyakan syarat perdamaian sebagai bukti ketidak-mampuan kita. Kemudian dilanjutkan dengan “Demikian pulalah(ITB)” ó ”In the same way (NIV)”(33), yang berarti kita harus mempunyai sikap seperti raja diatas yang menyadari ketidak-mampuan dan menyerahkannya pada belas kasihan raja yang kuat, ini seperti kita harus melepaskan “diri” kita agar menjadi pengikut Tuhan(lihat syarat pertama).

Memberi dampak

Lalu perikop ini dilanjutkan dengan pernyataan garam yang tidak asin tidak berguna, kita bisa melihat di Matius 5:13-16 bahwa yang dimaksud dengan garam adalah kita, orang yang telah ditebus, kita harus mengasinkan(memang garam untuk itu kan) tetapi, seandainya, apabila, jikalau, garam itu tidak asin lagi which means kita tidak bisa mempengaruhi lagi, maka apa guna kita? Tidak bisa dipakai untuk apapun, termasuk di lading dan untuk pupuk. Kalau di Matius lebih keras lagi dibuang dan diinjak. Hendaklah kita menjadi pengikut Kristus yang mempunyai pengaruh ke lingkungan sekitar kita dengan menjalankan salib kita(lihat syarat kedua).

Janji penyertaan

Ketika Tuhan memberikan perintah pasti ada penyertaan yang Tuhan berikan pada kita. Ketika Tuhan menyuruh Abraham keluar dari tanah Ur-Kasdim, Tuhan menjanjikan Abram untuk menjadi bangsa yang besar. Ketika Tuhan menyuruh bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, Tuhan menjanjikan tanah perjanjian. Ketika Tuhan memerintahkan Amanat Agung, Tuhan menjanjikan akan menyertai sampai akhir jaman. Begitu juga dengan memikul salib. Darimana kita tahu? Dari Matius 11:25-30, (29) “Pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” inilah janji penyertaan bahwa jiwa kita akan mendapat ketenangan dalam memikul salib Tuhan. Perikop ini dalam konteks untuk orang yang diberikan Bapa kepada Kristus, baca seluruh perikop untuk lebih memahami, ini perikop yang sungguh indah.

Dilayakan bukan layak

Ketika kita menjadi pengikut Kristus(eng..ing..eng tiba-tiba saja jadi), apakah sebenarnya yang membuat kita menjadikan kita layak untuk menjadi pengikut Kristus? Tidak ada, sama sekali tidak ada yang membuat kita layak untuk itu (Mazmur 14:3), tetapi sekarang kita, orang yang percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat, dilayakan untuk menjadi pengikut Kristus, bukan layak dari sendirinya. Kalau ada seorang yang merasa dirinya tidak layak, itu adalah salah satu ciri yang seharusnya, karena kita tidak layak mari kita memperbaiki diri agar hidup kita mau berubah agar lebih berkenan pada Tuhan, sebaliknya, jika kita merasa layak, mungkin kita harus sadari bahwa kita dalam masalah yang kronis.

Melayani setelah dilayani

Sekarang kita telah tahu cukup banyak untuk menjadi pengikut Kristus, saya mengajak kita semua untuk turut ambil bagian dalam pelayanan yang kita kerjakan untuk Tuhan, baik di lingkungan pekerjaan, lingkungan kuliah, lingkungan keluarga, mari kita mulai mengutamakan Tuhan dan memikul salib dari hal yang terkecil dan di bidang kita masing-masing, Tuhan sudah melakukan segalanya termasuk mati untuk kita, sekarang apa yang kita lakukan untuk kasih yang dicurahkan kepada kita? Masihkan kita menyia-nyiakan hidup? Mari kita datang dengan kerendahan hati, untuk bersama-sama mengerjakan dan membangun kerajaan Surga di Bumi ini sebagai pengikut dan pelayan Tuhan yang setia.

~Soli Deo Gloria~

Jika ada yang merasa penguraian diatas ada yang tidak konsisten dengan Firman Tuhan(Alkitab), diminta dengan segala kehormatan dan terima kasih, untuk melaporkan dan menguraikan letak kesalahanya. Tuhan memberkati.

Note:
Originally Written by: Yohanes Immanuel (Fasilkom 05)
Saya cuma bantu posting… :D

h1

Paskah POUI 2008!!!

April 16, 2008

Poster Paskah POUI 2008

h1

Ringkasan PJ

Februari 25, 2008

Horee…..!!!

Teman-teman, sekarang kita bisa nikmatin ringkasan PJ (Persekutuan Jumat) lagi lho tiap minggu. Ringkasan PJ-nya bisa dilihat disini.

Selamat menikmati… :D

h1

Pemimpin yang Alkitabiah

Februari 15, 2008

Saat ini PO Fasilkom sedang memasuki masa regenerasi pengurus. PO Fasilkom sedang pada tahap pergantian pengurus dari pengurus yang lama ke pengurus yang baru. Lalu, kenapa judul postingan ini adalah “Pemimpin yang Alkitabiah”? Karena, pengurus PMK adalah pemimpin jemaat Tuhan (jemaat PMK) dan orang-orang yang memimpin jemaat Tuhan haruslah sesuai dengan kehendak Tuhan. Dari mana kita tahu kehendak Tuhan kalau bukan dari Alkitab. Karena itulah yang menjadi pengurus PMK harus melalui proses yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Proses yang seperti bagaimana yang sesuai dengan kehendak Tuhan? Saya akan membahas sedikit di sini, tapi mungkin ini tidak terlalu mendalam karena saya sendiri juga masih perlu banyak belajar mengerti kehendak Tuhan. :D

Kriteria yang pertama dan paling utama, pemimpin umat Allah haruslah dipilih oleh Allah. Dapat kita lihat dalam Alkitab bahwa setiap pemimpin umat Allah adalah orang yang ditunjuk oleh Allah sendiri. Dalam cerita sejarah umat Israel, pemimpin mereka dari zaman kepemimpinan oleh nabi, berganti ke hakim-hakim, hingga ke sistem kerajaan, orang-orang yang menjadi pemimpin bangsa Israel adalah orang-orang yang ditunjuk oleh Allah sendiri (Musa, Yosua, Samuel, Daud, dll). Pada masa perjanjian baru pun, kita dapat melihat bahwa orang-orang yang kemudian menjadi rasul yang menjadi pemimpin jemaat adalah orang-orang yang dipilih sendiri oleh Tuhan Yesus, bahkan rasul Paulus yang bukan termasuk dalam murid-murid yang dipilih oleh Tuhan Yesus dipilih sendiri oleh Tuhan. Jadi, Alkitab dengan jelas ingin menyatakan bahwa pemimpin jemaat haruslah orang yang dipilih Tuhan.

Kriteria yang kedua, sebelum menjadi pemimpin semua pemimpin jemaat harus melalui proses pembinaan oleh Allah. Beberapa contoh: Musa dibina Tuhan di Midian selama 40 tahun sebelum memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, Yosua dibina Tuhan dengan menjadi pengikut Musa sebelum memimpin bangsa Israel masuk ke Kanaan, Daud dibina Tuhan dengan cara menjadi pemain kecapi untuk Saul sebelum menggantikan Saul, murid-murid Tuhan Yesus menjalani pembinaan selama 3,5 tahun sebelum memberitakan Injil dan menjadi pemimpin jemaat, bahkan Tuhan Yesus sendiri harus menunggu 30 tahun sebelum melayani. Alkitab dengan jelas menyatakan juga bahwa setiap pemimpin dan bukan hanya pemimpin jemaat, setiap orang juga karena semua orang adalah pemimpin minimal bagi dirinya sendiri (selain dipimpin oleh Roh Kudus tentunya) harus melalui proses pembinaan oleh Tuhan.

Kriteria ketiga dan yang terakhir yang akan saya bahas (bukan berarti hanya ada tiga kriteria, saya hanya membahas tiga. Saya tidak tahu jika ada yang lain, tapi menurut saya tiga ini yang penting untuk dibahas) adalah implikasi dari kriteria pertama. Kriteria pertama, pemimpin adalah yang ditunjuk Tuhan. Bagaimana menentukan bahwa seseorang itu merupakan orang yang ditunjuk Tuhan? Caranya dengan pemimpin sebelumnya menggumulkan orang itu, karena kita yakin bahwa pemimpin jemaat adalah pilihan Tuhan, maka orang yang memimpin tentu saja tahu kehendak Tuhan. Karena tahu kehendak Tuhan, maka pemimpin sebelumnya yang berhak dan berkewajiban untuk meregenerasikan pemimpin berikutnya.

Semoga pembahasan ini bisa membuka wawasan pembaca mengenai pemimpin jemaat Tuhan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Amin.

~GBU All  :D

h1

Integrasi Iman dan Ilmu

Desember 16, 2007

Pertama gw mau teriak “HOREE” dulu atas postingan pertama gw di blog po12 ini. :D

Yang akan gw bahas di sini mengenai khotbah bang Ronald Oroh di ibadah natal POUI tanggal 15 Desember 2007.Muncul pertanyaan di benak gw saat mendengar khotbah itu : apakah selama ini gw sudayh mengintegrasikan ilmu dengan iman!? Apakah selama ini PO Fasilkom sudah mengajarkan jemaatnya untuk mengintegrasikan ilmu dengan iman!?  Sayang sekali jawabannya adalah belum. Selama ini kita seringkali membeda-bedakan antara hal “rohani” dan “bukan rohani”. Seringkali kita menganggap bahwa mempelajari suatu ilmu pengetahuan itu tidak ada hubungannya dengan keimanan kita. Pemikiran seperti ini adalah pemikiran yang salah dan harus diubah. Ingat kembali apa tujuan hidup kita di dunia ini. Jika (dan memang harus) tujuan hidup kita adalah memuliakan Allah, berarti Allah (firman Allah) harus menjadi dasar dalam setiap aspek kehidupan kita. Termasuk saat kita mempelajari suatu ilmu pengetahuan. Kita harus melihat lagi ilmu yang kita pelajari melalui perspektif kebenaran Allah. Kita harus belajar mempertanyakan : apakah ilmu yang saya pelajari ini sesuai dengan kebenaran Allah? Apakah ilmu yang saya pelajari ini bisa dipakai untuk kemuliaan Allah? Bagaimana caranya saya menggunakan ilmu ini untuk kemuliaan Allah!?

Intinya: untuk hidup memuliakan Allah, Allah harus menjadi dasar dari semua aspek kehidupan kita termasuk saat kita mempelajari suatu ilmu pengetahuan (kuliah).