Arsip untuk Februari, 2008

h1

Pengampunan Yang Memulihkan Dendam Berakar

Februari 27, 2008

Tekanan ekonomi dan kehadiran wanita lain membuat ayah Levi pergi dari rumah. Levi saat itu masih bayi dan belum mengerti apa-apa. Semenjak saat itu Levi bertumbuh tanpa kehadiran seorang ayah di hidupnya. Di masa kecilnya, saat Levie sudah mulai mengenal lingkungan di sekitarnya, pertanyaan seputar keberadaan ayahnya pun menjadi topik tetap yang selalu ditanyakannya kepada Marsih, ibunya. Namun Marsih selalu mengatakan kalau ayahnya sudah meninggal dan tidak akan kembali lagi.

“Mama dulu memang pernah bilang kalau papa itu dimakan buaya, tinggal di suatu pulau lain dan banyak kebohongan-kebohongan lain mengenai keberadaan papa,” ujar Levie memulai kesaksiannya.

Figur seorang ayah tidak pernah ada dalam benak Levie. Keluarga baginya hanyalah kakak dan Marsih, ibunya. Sampai suatu hari, Levie harus menerima kenyataan yang begitu melukai hatinya. Saat Marsih merasa usia Levie sudah cukup untuk mengerti masalah yang pernah terjadi antara Marsih dengan ayah Levie, Marsih pun membuka kebenaran itu kepada Levie. Kemarahan menguasai hati Levie saat itu juga karena Levie merasa demi wanita lain ayahnya tega meninggalkan ibu dan dirinya terlunta-lunta selama puluhan tahun.

Apa yang ditakuti Marsih menjadi kenyataan. Levie menjadi seorang pemabuk, pemakai ganja bahkan menjadi seorang penjual VCD porno. Di mata Levie, ayahnya adalah seorang yang tidak bertanggung jawab dan kurang ajar. Rasa pahit timbul sangat dalam di hati Levie sehingga Levie pun bertekad untuk membunuh ayahnya.

Rasa sayang Levie terhadap Marsih, ibunya tidak dapat membendung rasa benci yang dirasakannya. Sampai suatu ketika Marsih menerima kabar melalui telepon kalau ayah Levie saat ini sedang dirawat di Cipto. Marsih dan kakak ipar Levie segera pergi bermaksud mengunjungi ayahnya. Levie yang mendengar berita itu dari dalam kamar, segera berniat untuk menjalankan rencananya. Terbersit dalam benak Levie, inilah saat yang tepat untuk pembalasan dendam yang telah tersimpan selama 20 tahun.

Di rumah sakit, Levie seperti melihat kembali gambaran tentang ayahnya di masa lalu sebagai seorang ayah yang tidak bertanggung jawab, yang telah meninggalkan Levie, ibu dan saudara-saudaranya demi wanita lain. Di saat yang sama, Levie teringat kepada sebuah camp pria yang diikutinya beberapa bulan yang lalu. Levie teringat bagaimana perasaannya saat ia secara pribadi merasakan kehadiran Yesus di dalam hatinya. Bagaimana Yesus sangat mengasihinya dan tidak akan pernah meninggalkanya. Di saat genting itu, detik-detik terakhir menjelang pertemuan Levie dengan ayahnya untuk pertama kalinya, Levie memutuskan untuk mengampuni ayahnya.

Akhirnya Levie pun bertemu ayahnya untuk pertama kalinya. Kasih yang begitu besar melingkupi hati Levie. Levie telah mengalami kasih yang luar biasa itu sehingga ketika Levie melihat ayahnya yang terbaring di tempat tidur, tidak ada perasaan benci sama sekali yang pernah berakar di hatinya sampai menimbulkan keinginan untuk membunuh ayahnya. Yang ada malahan perasaan kasih yang semakin besar di dalam hati Levie untuk ayahnya. Awalnya yang menurut Levie bukan waktu yang tepat untuk bertemu ayahnya, ternyata merupakan waktu yang paling tepat dalam pertemuan pertama mereka.

Sejak Levie mengampuni ayahnya, Levie merasakan kemerdekaan dalam hatinya. Saat ini Levie telah memiliki hubungan yang baik dengan ayahnya, bahkan dengan adik tirinya. Buat Levie, Tuhan Yesus adalah pribadi yang luar biasa dan IA telah menjadi ayah yang luar biasa bagi Levie.

“Saya merasakan sejuk, damai sejahtera dan sukacita. Yang tadinya bingung, kuatir, tapi saya selalu berusaha untuk tidak pernah mengeluh dan tidak menyalahkan suami saya,” ujar Marsih, ibunda Levie mengenai pemulihan atas keluarganya.

“Saya yang tadinya berpikir kalau Tuhan itu jahat, Tapi semenjak saya mendengar suara itu yang mengatakan kalau Ia mengasihi saya, hati saya itu menjadi hati yang tenang, jiwa saya pun tenang. Tuhan Yesus adalah pribadi yang luar biasa dan Dia yang menguatkan saya selalu setiap hari,” ujar Levie menutup kesaksiannya. (Kesaksian ini sudah ditayangkan 4 Februari 2008 dalam acara Solusi di SCTV).

Sumber Kesaksian :
Levie Marimda

 

source

h1

Ringkasan PJ

Februari 25, 2008

Horee…..!!!

Teman-teman, sekarang kita bisa nikmatin ringkasan PJ (Persekutuan Jumat) lagi lho tiap minggu. Ringkasan PJ-nya bisa dilihat disini.

Selamat menikmati… :D

h1

Pemimpin yang Alkitabiah

Februari 15, 2008

Saat ini PO Fasilkom sedang memasuki masa regenerasi pengurus. PO Fasilkom sedang pada tahap pergantian pengurus dari pengurus yang lama ke pengurus yang baru. Lalu, kenapa judul postingan ini adalah “Pemimpin yang Alkitabiah”? Karena, pengurus PMK adalah pemimpin jemaat Tuhan (jemaat PMK) dan orang-orang yang memimpin jemaat Tuhan haruslah sesuai dengan kehendak Tuhan. Dari mana kita tahu kehendak Tuhan kalau bukan dari Alkitab. Karena itulah yang menjadi pengurus PMK harus melalui proses yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Proses yang seperti bagaimana yang sesuai dengan kehendak Tuhan? Saya akan membahas sedikit di sini, tapi mungkin ini tidak terlalu mendalam karena saya sendiri juga masih perlu banyak belajar mengerti kehendak Tuhan. :D

Kriteria yang pertama dan paling utama, pemimpin umat Allah haruslah dipilih oleh Allah. Dapat kita lihat dalam Alkitab bahwa setiap pemimpin umat Allah adalah orang yang ditunjuk oleh Allah sendiri. Dalam cerita sejarah umat Israel, pemimpin mereka dari zaman kepemimpinan oleh nabi, berganti ke hakim-hakim, hingga ke sistem kerajaan, orang-orang yang menjadi pemimpin bangsa Israel adalah orang-orang yang ditunjuk oleh Allah sendiri (Musa, Yosua, Samuel, Daud, dll). Pada masa perjanjian baru pun, kita dapat melihat bahwa orang-orang yang kemudian menjadi rasul yang menjadi pemimpin jemaat adalah orang-orang yang dipilih sendiri oleh Tuhan Yesus, bahkan rasul Paulus yang bukan termasuk dalam murid-murid yang dipilih oleh Tuhan Yesus dipilih sendiri oleh Tuhan. Jadi, Alkitab dengan jelas ingin menyatakan bahwa pemimpin jemaat haruslah orang yang dipilih Tuhan.

Kriteria yang kedua, sebelum menjadi pemimpin semua pemimpin jemaat harus melalui proses pembinaan oleh Allah. Beberapa contoh: Musa dibina Tuhan di Midian selama 40 tahun sebelum memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, Yosua dibina Tuhan dengan menjadi pengikut Musa sebelum memimpin bangsa Israel masuk ke Kanaan, Daud dibina Tuhan dengan cara menjadi pemain kecapi untuk Saul sebelum menggantikan Saul, murid-murid Tuhan Yesus menjalani pembinaan selama 3,5 tahun sebelum memberitakan Injil dan menjadi pemimpin jemaat, bahkan Tuhan Yesus sendiri harus menunggu 30 tahun sebelum melayani. Alkitab dengan jelas menyatakan juga bahwa setiap pemimpin dan bukan hanya pemimpin jemaat, setiap orang juga karena semua orang adalah pemimpin minimal bagi dirinya sendiri (selain dipimpin oleh Roh Kudus tentunya) harus melalui proses pembinaan oleh Tuhan.

Kriteria ketiga dan yang terakhir yang akan saya bahas (bukan berarti hanya ada tiga kriteria, saya hanya membahas tiga. Saya tidak tahu jika ada yang lain, tapi menurut saya tiga ini yang penting untuk dibahas) adalah implikasi dari kriteria pertama. Kriteria pertama, pemimpin adalah yang ditunjuk Tuhan. Bagaimana menentukan bahwa seseorang itu merupakan orang yang ditunjuk Tuhan? Caranya dengan pemimpin sebelumnya menggumulkan orang itu, karena kita yakin bahwa pemimpin jemaat adalah pilihan Tuhan, maka orang yang memimpin tentu saja tahu kehendak Tuhan. Karena tahu kehendak Tuhan, maka pemimpin sebelumnya yang berhak dan berkewajiban untuk meregenerasikan pemimpin berikutnya.

Semoga pembahasan ini bisa membuka wawasan pembaca mengenai pemimpin jemaat Tuhan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Amin.

~GBU All  :D