Ringkasan PJ hadir lagi, selamat menikmati.
http://po12.wordpress.com/ringkasan-pj/mengenal-allah/adalah ringkasan PJ 24 Okt 08. Ringkasan PJ minggu^^ sebelumnya akan segera menyusul. GBU
Ringkasan PJ hadir lagi, selamat menikmati.
http://po12.wordpress.com/ringkasan-pj/mengenal-allah/adalah ringkasan PJ 24 Okt 08. Ringkasan PJ minggu^^ sebelumnya akan segera menyusul. GBU
Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar »
Kami Keluarga besar PO Fasilkom UI mengucapkan slamat datang dan bergabung kepada Saudara-saudari baru kami angkatan 2008 di FASILKOM UI dan PO (Persekutuan Oikumene) FASILKOM UI.
Ady Immanuel Silaen
Arnold Rafles Fansius
Danny Handoko
Desiree
Emerson CS
Feraena Bibyna
Harwin
Irene Sherlyta
Istha Bena H
Juliana Anita
Junitha Manurung
Kartika Pratiwi
Kenanya Gusti Makarya
Kenneth Maynard
Lasguido
Melati
Meliani Efelina Napitupulu
Mika Putri Hutajulu
Obed Ottho
Ramanda
Ricky Junitri Lumban Gaol
Rina A
Sely Haudy
Septian
Stefan S. A. Hutabarat
Steffi Melinda
Widari Tri Hartati
Willy H. D.
Tuhan memberkati kita semua menjadi satu keluarga besar yang saling mengasihi dan melengkapi dalam satu tubuh Kristus.
Jangan lupa kunjungi Forum PO Fasilkom: http://pofasilkom.forumer.com/
Mari berkenalan di: http://pofasilkom.12.forumer.com/viewtopic.php?t=144
Atu lagi,, buat smuanya, Mahasiswa Baru, Mahasiswa Lama, Alumni Baru, Alumni Lama, hehe,.. Jangan lupa dateng RPI yak, Mari bersama-sama menikmati Firman Tuhan dan kehangatan tali persaudaraan ![]()
Ditulis dalam Uncategorized | 4 Komentar »
Saat tadi pagi sedang sibuk-sibuknya di kantor, gw mendengar sesuatu yang familiar di kuping. Seorang rekan kerja gw bernama Velroy (orang India beragama Hindu) sedang menyanyikan sesuatu yang familiar sekali di kuping gw. Kira-kira gw bertanya demikian:
Velroy, what’s that you’re singing?
Dan dia jawab kira-kira seperti ini:
It’s a hymn. You know that?
Singkatnya, gw minta lirik lagu itu ke dia dan dia malah menawarkan 4 album (per folder) hymns : First Love by Paul Baloche, Many walks one road by Christophil, Center of My Universe by Michelle Tumes dan Open the eyes of my heart by Paul Baloche.
Above all powers
Above all things
Above all nature and all created things
Above all wisdom and all the ways of man
You were here before the world began
Above all kingdoms
Above all thrones
Above all wonders the world has ever known
Above all wealth and treasures of the earth
There’s no way to measure what You’re worthChorus
Crucified
Laid behind the stone
You lived to die
Rejected and alone
Like a rose trampled on the ground
You took the fall
And thought of me
Above all
Sembari menunggu proses copy & paste, dia bertanya sesuatu yang penting buat gw.
Do you know scriptures?
Karena dia bertanya sambil menunjuk kepalanya lewat sampin, jadi ya gw pikir maksudnya ‘hafal ayat alkitab?’ ya gw jawab aja
Not really
Dan dia bilang lagi demikian
I know some scriptures
Lalu tersenyum dan membuat gw bertanya lagi
How do you know?
Dia jawab
I just read bible
Okelah. gw duduk lagi di bangku gw sambil merenung
*malu*
updated:
Weits, entar dulu. masa postingan gw jadi ngegantung begini?
ya jadi.. setelah gw cermati lagi kata-kata lagu diatas (coba kalian cermati juga) ternyata lagu ini bukanlah lagu yang bisa dimaknai secara sekuler.
Bait pertama dengan jelas menggambarkan kebesaran Allah diatas segalanya. Lalu pada chorus, Allah yang begitu besar itu turun dan menjadi tertolak (rejected) diantara ciptaan-Nya.
Dengan menyanyikan lagu ini secara sadar, kita mengakui kebesaran Allah dan dan mengagumi Dia yang, dari tahta kebesaranNya, mengosongkan diriNya dan mati di atas kayu salib karena dosa manusia.
Semoga besok masih banyak kesempatan lagi buat ngobrol-ngobrol
Ditulis dalam Uncategorized | yang berkaitan bible, scripture, song | 1 Komentar »
Bersyukur kepada Allah yang memberikan kita kehidupan!
Tapi kalau hanya hidup karena hari bukan karena arti, monyet juga hidup, coro juga hidup (tanpa bermaksud menghina salah satu ciptaan Allah).
Semua makhluk hidup, hidup bersama-sama. Saling berinteraksi dalam ekosistem sehingga menciptakan rantai makanan, simbiosis dan hal lainnya.
Lalu manusia harus hidup bagaimana biar tidak sama dengan monyet ataupun coro?
Allah memberikan manual untuk mengoperasikan hidup ini agar running secara optimal.
Pada jaman perjanjian lama, Allah memberikan manusia 10 hukum yang dituliskan pada 2 loh batu yang isinya adalah 10 poin penting dalam menjalin hubungan vertikal antara kita dan Allah dan hubungan horizontal antara aku dan kamu dan mereka.
Yah kira-kira begitulah bentuk manual tersebut pada mulanya sehingga sampai sekarang kita diberikan Allah manual yang lengkap yang kita sebut Alkitab.
Jika manusia melakukan manual tersebut dengan sungguh-sungguh, alhasil kehidupan manusia akan maksimal.
Dalam ibadah minggu (kemarin) diingatkan dengan sesuatu yang tidak baru. yaitu hukum ke-6
Jangan membunuh. (KELUARAN 20:13)
Jika yang Allah maksudkan adalah menghabisi nyawa seseorang, maka gw sudah termasuk lulus karena belum pernah membunuh orang lain.
Tetapi menghabisi nyawa orang lain bukanlah satu-satunya cara membunuh.
Karena ketika Allah memberikan kita hidup, bukan hanya nyawa.
Tetapi coba bayangkan apabila kita diberikan Allah nyawa tanpa diperbolehkan untuk mencari dan membuat pilihan apalagi memutuskan sesuatu. Punya nyawa tapi tidak punya kemampuan mencari pasangan nyawa sendiri.
IMO, nyawa adalah main thread dari hidup.
Dalam artian bahwa jika nyawa ini mati (exit), maka seluruh atribut kehidupan pun mati.
Jika hidup gw ini diibaratkan sebuah thread yang sedang berjalan (hidupku.exe) , maka dengan memanggil fungsi kill, hidup pun berakhir (exit).
Tapi dengan menutup semua akses sehingga thread ini tidak berguna, maka lebih baik thread itu mati.
AHAHA lucu juga mengibaratkan hidup ini sebagai sebuah thread ;p
Ada cara lain untuk mengambil alih kehidupan orang lain?
Pernah dengar istilah character assassination?
Melakukan pembunuhan karakter juga termasuk melanggar hukum ke-6.
Meniadakan hak dan kebebasan orang lain adalah juga pembunuhan yang dimaksudkan dalam hukum ke-6.
Karena dengan membunuh karakter, meniadakan hak dan mengatur kebebasan orang lain. sama saja dengan mengambil alih kehidupannya.
(jadi kurang suka dengan istilah managing people, mungkin lebih baik managing relationship)
Bunuh diri juga melanggar hukum ke-6
Berhentilah membunuh diri sendiri dengan berbagai macam penghakiman.
Hargailah hidup yang Allah telah anugerahkan dan operasikanlah hidup kita secara maksimal dengan membaca manual yang ia berikan dan manual itu kita sebut Alkitab. Mari membaca Alkitab, stop bunuh diri.
Ditulis dalam Hukum Taurat | yang berkaitan bunuh diri, kehidupan, pembunuhan | 4 Komentar »
Perikop Lukas 14:25-35 mengatakan bagaimana menjadi seorang disciple (disciple : follower of a religious, political, etc leader [Oxford Learner’s Pocket Dictionary]).
Syarat menjadi pengikut.
Di perikop ini ada dua ayat yang menjelaskan tentang syarat menjadi seorang pengikut Kristus. Pertama (26), Ia mau kita supaya “membenci” dari bapa, ibu, isteri, anak-anaknya, saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, disini saya meng-quote kata membenci. Kenapa? Karena ayat ini mengambarkan kiasan dari makna membenci, kita tidak boleh mengartikan maknanya secara hurufiah dan dipandang dari sudut pandang manusia, masakan Tuhan yang menyuruh kita menghormati orang tua kita (Keluaran 20:12) menyuruh kita untuk membenci orang tua kita, masakan Tuhan yang menyuruh kita mengasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius 19:19) menyuh kita membenci bahkan diri kita, sekali-kali tidak. Adapun yang dimaksud disini adalah seperti di perikop Orang muda yang kaya (Matius 19:19) yaitu bahwa jika kita tidak mengutamakan Tuhan diatas orangtua, istri, anak, saudara bahkan diri kita sendiri(yang mana terkadang kita lebih mementingkan kepentingan pibadi diatas kepentingan orang lain), kita tidak layak menjadi pengikut Kristus. Kedua (27), Ia mau supaya kita memikul salib dan mengikut Dia. Kenapa? Apakah dengan mengutamakan Tuhan tidak cukup untuk menjadi pengikut Tuhan? Sebenarnya sudah cukup kok. Kalau begitu kenapa kita harus memikul salib dan mengikuti Dia? Karena kalau kita sudah benar-benar mengutamakan Tuhan dalam kehidupan kita maka (otomatis) kita akan melakukan kehendaknya dengan memikul salibNya. Kita tidak mungkin berkata bahwa kita sudah mengikuti Tuhan tetapi NATO(No Action Talk Only), kita pasti akan melakukannya. Nantinya kita akan diuji, dan ujian itu akan dinilai melalui tindakan kita dan melalui waktu, jika semua sudah selesai maka kita baru berhak mendapat predikat setia memikul salib(membutuhkan stabilitas dan usaha terus menerus). Kesetiaan tidak pernah datang dengan sendirinya(Binti..Sala..Binti, tiba-tiba disebut setia), sayangnya ini bagian yang amat susah untuk mengutamakan Kristus dalam segala aspek kehidupan(setia memikul salib) terlebih lagi jika harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
No Point of Return
Lalu perikop ini dilanjutkan dengan perumpamaan seorang yang ingin mendirikan menara lalu memperkirakan apakah ia sanggup atau tidak, saya mengambil commentary dari Wesley yang menjelaskan ini adalah bahwa kita ingin mengikuti Tuhan, kita harus mempertimbangkan terlebih dahulu dengan serius untuk itu, agar jangan ketika di tengah jalan, kita merasa bahwa tidak sanggup lalu berhenti dan kemudian ditertawakan dan dicemooh orang. Yang saya tangkap dari hal ini adalah, bahwa kita tahu secara sadar dan sudah dipikirkan sebelum kita mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan, jadi kita menjalankan pelayanan dengan kesadaran sehingga kita tidak berhenti di tengah jalan.
Perikop berikutnya adalah perumpamaan tentang seorang raja yang mau berperang dengan raja lain yang lebih besar kekuatannya, untuk ini saya kurang memahami terlalu dalam, namun maksud yang saya tangkap disini adalah bahwa kita melakukan penyerahan penuh kepada Tuhan(raja dengan kekuatan yang lebih besar) dengan mengirimkan utusan perdamaian yang menanyakan syarat perdamaian sebagai bukti ketidak-mampuan kita. Kemudian dilanjutkan dengan “Demikian pulalah(ITB)” ó ”In the same way (NIV)”(33), yang berarti kita harus mempunyai sikap seperti raja diatas yang menyadari ketidak-mampuan dan menyerahkannya pada belas kasihan raja yang kuat, ini seperti kita harus melepaskan “diri” kita agar menjadi pengikut Tuhan(lihat syarat pertama).
Memberi dampak
Lalu perikop ini dilanjutkan dengan pernyataan garam yang tidak asin tidak berguna, kita bisa melihat di Matius 5:13-16 bahwa yang dimaksud dengan garam adalah kita, orang yang telah ditebus, kita harus mengasinkan(memang garam untuk itu kan) tetapi, seandainya, apabila, jikalau, garam itu tidak asin lagi which means kita tidak bisa mempengaruhi lagi, maka apa guna kita? Tidak bisa dipakai untuk apapun, termasuk di lading dan untuk pupuk. Kalau di Matius lebih keras lagi dibuang dan diinjak. Hendaklah kita menjadi pengikut Kristus yang mempunyai pengaruh ke lingkungan sekitar kita dengan menjalankan salib kita(lihat syarat kedua).
Janji penyertaan
Ketika Tuhan memberikan perintah pasti ada penyertaan yang Tuhan berikan pada kita. Ketika Tuhan menyuruh Abraham keluar dari tanah Ur-Kasdim, Tuhan menjanjikan Abram untuk menjadi bangsa yang besar. Ketika Tuhan menyuruh bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, Tuhan menjanjikan tanah perjanjian. Ketika Tuhan memerintahkan Amanat Agung, Tuhan menjanjikan akan menyertai sampai akhir jaman. Begitu juga dengan memikul salib. Darimana kita tahu? Dari Matius 11:25-30, (29) “Pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” inilah janji penyertaan bahwa jiwa kita akan mendapat ketenangan dalam memikul salib Tuhan. Perikop ini dalam konteks untuk orang yang diberikan Bapa kepada Kristus, baca seluruh perikop untuk lebih memahami, ini perikop yang sungguh indah.
Dilayakan bukan layak
Ketika kita menjadi pengikut Kristus(eng..ing..eng tiba-tiba saja jadi), apakah sebenarnya yang membuat kita menjadikan kita layak untuk menjadi pengikut Kristus? Tidak ada, sama sekali tidak ada yang membuat kita layak untuk itu (Mazmur 14:3), tetapi sekarang kita, orang yang percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat, dilayakan untuk menjadi pengikut Kristus, bukan layak dari sendirinya. Kalau ada seorang yang merasa dirinya tidak layak, itu adalah salah satu ciri yang seharusnya, karena kita tidak layak mari kita memperbaiki diri agar hidup kita mau berubah agar lebih berkenan pada Tuhan, sebaliknya, jika kita merasa layak, mungkin kita harus sadari bahwa kita dalam masalah yang kronis.
Melayani setelah dilayani
Sekarang kita telah tahu cukup banyak untuk menjadi pengikut Kristus, saya mengajak kita semua untuk turut ambil bagian dalam pelayanan yang kita kerjakan untuk Tuhan, baik di lingkungan pekerjaan, lingkungan kuliah, lingkungan keluarga, mari kita mulai mengutamakan Tuhan dan memikul salib dari hal yang terkecil dan di bidang kita masing-masing, Tuhan sudah melakukan segalanya termasuk mati untuk kita, sekarang apa yang kita lakukan untuk kasih yang dicurahkan kepada kita? Masihkan kita menyia-nyiakan hidup? Mari kita datang dengan kerendahan hati, untuk bersama-sama mengerjakan dan membangun kerajaan Surga di Bumi ini sebagai pengikut dan pelayan Tuhan yang setia.
~Soli Deo Gloria~
Jika ada yang merasa penguraian diatas ada yang tidak konsisten dengan Firman Tuhan(Alkitab), diminta dengan segala kehormatan dan terima kasih, untuk melaporkan dan menguraikan letak kesalahanya. Tuhan memberkati.
Note:
Originally Written by: Yohanes Immanuel (Fasilkom 05)
Saya cuma bantu posting…
Ditulis dalam Perenungan | 7 Komentar »
Yemima Aprilia, Adolf Pandapotan, dan Sadar Baskoro 2004 sudah menunaikan tugasnya sebagai Tim Inti periode 2007-2008 dengan sangat baik. Dedikasi, keringat, bahkan air mata mereka curahkan demi melaksanakan tugas mereka di PO, sungguh suatu teladan yang sangat membesarkan hati!
Yang lebih membesarkan hati, selepas dari kepemimpinan mereka, kini muncul para pemimpin baru yang juga punya dedikasi tidak kalah tinggi terhadap PO Fasilkom.
Refly Harold Hadiwijaya (Koordinator PO 2008-2009)
Yohanes Immanuel (Tim inti seksi acara)
Elisabeth Martha Koeanan (Tim inti seksi doper)
Semoga dalam era yang baru ini, mereka bekerja dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati, membawa dampak dan menjadi berkat bagi setiap jemaat maupun setiap warga dari Fasilkom UI.
God Bless….
Ditulis dalam From Admin | 7 Komentar »
|
Tekanan ekonomi dan kehadiran wanita lain membuat ayah Levi pergi dari rumah. Levi saat itu masih bayi dan belum mengerti apa-apa. Semenjak saat itu Levi bertumbuh tanpa kehadiran seorang ayah di hidupnya. Di masa kecilnya, saat Levie sudah mulai mengenal lingkungan di sekitarnya, pertanyaan seputar keberadaan ayahnya pun menjadi topik tetap yang selalu ditanyakannya kepada Marsih, ibunya. Namun Marsih selalu mengatakan kalau ayahnya sudah meninggal dan tidak akan kembali lagi. “Mama dulu memang pernah bilang kalau papa itu dimakan buaya, tinggal di suatu pulau lain dan banyak kebohongan-kebohongan lain mengenai keberadaan papa,” ujar Levie memulai kesaksiannya.
Apa yang ditakuti Marsih menjadi kenyataan. Levie menjadi seorang pemabuk, pemakai ganja bahkan menjadi seorang penjual VCD porno. Di mata Levie, ayahnya adalah seorang yang tidak bertanggung jawab dan kurang ajar. Rasa pahit timbul sangat dalam di hati Levie sehingga Levie pun bertekad untuk membunuh ayahnya.
Di rumah sakit, Levie seperti melihat kembali gambaran tentang ayahnya di masa lalu sebagai seorang ayah yang tidak bertanggung jawab, yang telah meninggalkan Levie, ibu dan saudara-saudaranya demi wanita lain. Di saat yang sama, Levie teringat kepada sebuah camp pria yang diikutinya beberapa bulan yang lalu. Levie teringat bagaimana perasaannya saat ia secara pribadi merasakan kehadiran Yesus di dalam hatinya. Bagaimana Yesus sangat mengasihinya dan tidak akan pernah meninggalkanya. Di saat genting itu, detik-detik terakhir menjelang pertemuan Levie dengan ayahnya untuk pertama kalinya, Levie memutuskan untuk mengampuni ayahnya.
Sejak Levie mengampuni ayahnya, Levie merasakan kemerdekaan dalam hatinya. Saat ini Levie telah “Saya merasakan sejuk, damai sejahtera dan sukacita. Yang tadinya bingung, kuatir, tapi saya selalu berusaha untuk tidak pernah mengeluh dan tidak menyalahkan suami saya,” ujar Marsih, ibunda Levie mengenai pemulihan atas keluarganya. “Saya yang tadinya berpikir kalau Tuhan itu jahat, Tapi semenjak saya mendengar suara itu yang mengatakan kalau Ia mengasihi saya, hati saya itu menjadi hati yang tenang, jiwa saya pun tenang. Tuhan Yesus adalah pribadi yang luar biasa dan Dia yang menguatkan saya selalu setiap hari,” ujar Levie menutup kesaksiannya. (Kesaksian ini sudah ditayangkan 4 Februari 2008 dalam acara Solusi di SCTV). Sumber Kesaksian : Levie Marimda
|
|
Ditulis dalam Pengampunan | 3 Komentar »
Teman-teman, sekarang kita bisa nikmatin ringkasan PJ (Persekutuan Jumat) lagi lho tiap minggu. Ringkasan PJ-nya bisa dilihat disini.
Selamat menikmati…
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »
Saat ini PO Fasilkom sedang memasuki masa regenerasi pengurus. PO Fasilkom sedang pada tahap pergantian pengurus dari pengurus yang lama ke pengurus yang baru. Lalu, kenapa judul postingan ini adalah “Pemimpin yang Alkitabiah”? Karena, pengurus PMK adalah pemimpin jemaat Tuhan (jemaat PMK) dan orang-orang yang memimpin jemaat Tuhan haruslah sesuai dengan kehendak Tuhan. Dari mana kita tahu kehendak Tuhan kalau bukan dari Alkitab. Karena itulah yang menjadi pengurus PMK harus melalui proses yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Proses yang seperti bagaimana yang sesuai dengan kehendak Tuhan? Saya akan membahas sedikit di sini, tapi mungkin ini tidak terlalu mendalam karena saya sendiri juga masih perlu banyak belajar mengerti kehendak Tuhan.
Kriteria yang pertama dan paling utama, pemimpin umat Allah haruslah dipilih oleh Allah. Dapat kita lihat dalam Alkitab bahwa setiap pemimpin umat Allah adalah orang yang ditunjuk oleh Allah sendiri. Dalam cerita sejarah umat Israel, pemimpin mereka dari zaman kepemimpinan oleh nabi, berganti ke hakim-hakim, hingga ke sistem kerajaan, orang-orang yang menjadi pemimpin bangsa Israel adalah orang-orang yang ditunjuk oleh Allah sendiri (Musa, Yosua, Samuel, Daud, dll). Pada masa perjanjian baru pun, kita dapat melihat bahwa orang-orang yang kemudian menjadi rasul yang menjadi pemimpin jemaat adalah orang-orang yang dipilih sendiri oleh Tuhan Yesus, bahkan rasul Paulus yang bukan termasuk dalam murid-murid yang dipilih oleh Tuhan Yesus dipilih sendiri oleh Tuhan. Jadi, Alkitab dengan jelas ingin menyatakan bahwa pemimpin jemaat haruslah orang yang dipilih Tuhan.
Kriteria yang kedua, sebelum menjadi pemimpin semua pemimpin jemaat harus melalui proses pembinaan oleh Allah. Beberapa contoh: Musa dibina Tuhan di Midian selama 40 tahun sebelum memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, Yosua dibina Tuhan dengan menjadi pengikut Musa sebelum memimpin bangsa Israel masuk ke Kanaan, Daud dibina Tuhan dengan cara menjadi pemain kecapi untuk Saul sebelum menggantikan Saul, murid-murid Tuhan Yesus menjalani pembinaan selama 3,5 tahun sebelum memberitakan Injil dan menjadi pemimpin jemaat, bahkan Tuhan Yesus sendiri harus menunggu 30 tahun sebelum melayani. Alkitab dengan jelas menyatakan juga bahwa setiap pemimpin dan bukan hanya pemimpin jemaat, setiap orang juga karena semua orang adalah pemimpin minimal bagi dirinya sendiri (selain dipimpin oleh Roh Kudus tentunya) harus melalui proses pembinaan oleh Tuhan.
Kriteria ketiga dan yang terakhir yang akan saya bahas (bukan berarti hanya ada tiga kriteria, saya hanya membahas tiga. Saya tidak tahu jika ada yang lain, tapi menurut saya tiga ini yang penting untuk dibahas) adalah implikasi dari kriteria pertama. Kriteria pertama, pemimpin adalah yang ditunjuk Tuhan. Bagaimana menentukan bahwa seseorang itu merupakan orang yang ditunjuk Tuhan? Caranya dengan pemimpin sebelumnya menggumulkan orang itu, karena kita yakin bahwa pemimpin jemaat adalah pilihan Tuhan, maka orang yang memimpin tentu saja tahu kehendak Tuhan. Karena tahu kehendak Tuhan, maka pemimpin sebelumnya yang berhak dan berkewajiban untuk meregenerasikan pemimpin berikutnya.
Semoga pembahasan ini bisa membuka wawasan pembaca mengenai pemimpin jemaat Tuhan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Amin.
~GBU All :D
Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar »